TUTUP
TUTUP
POLITIK

Situasi Politik Memanas, Ini Saran SBY pada Jokowi

SBY tak ingin terus berdiam diri dan ingin menjadi bagian dari solusi.
Situasi Politik Memanas, Ini Saran SBY pada Jokowi
Presiden SBY bertemu Jokowi-JK, 9 Juli 2014. (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)

VIVA.co.id - Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali mengeluarkan pernyataan terkait kondisi sosial politik di Indonesia yang memanas saat ini. SBY menegaskan, dalam situasi seperti saat ini, secara moral, ia merasa wajib menjadi bagian dari solusi.

"Akan menjadi baik jika saya ikut menyampaikan pandangan dan saran kepada pemimpin kita, Presiden Jokowi, agar beliau bisa segera mengatasi masalah yang ada saat ini," kata SBY dalam keterangan yang diterima VIVA.co.id, Senin, 28 November 2016.

SBY mengakui, lebih dari tiga pekan ini memilih diam. Bahkan, untuk sementara, ia menutup komunikasi dengan berbagai kalangan, termasuk para sahabat, yang ingin bertemu dengannya. "Saya mohon maaf untuk itu, daripada kami semua kena fitnah," kata dia.

SBY tidak lupa ketika melakukan klarifikasi atas fitnah yang sampai ke pusat kekuasaan bahwa seolah Partai Demokrat terlibat dan dirinya dituduh membiayai aksi damai 4 November 2016. Ia merasa diserang dan "dihabisi" tanpa ampun. "Tetapi, mengamati situasi yang berkembang saat ini, saya pikirkan tak baik jika saya berdiam diri," tutur SBY.

Oleh karena itu, SBY memutuskan untuk menyampaikan harapan dan pandangannya tentang solusi dan tindakan apa yang layak dilakukan oleh pemerintah.

Bisa Dicegah

SBY mengemukakan bahwa memburuknya situasi sosial dan politik sekarang ini sebenarnya preventable atau bisa dicegah. Hanya saja, penanganan masalah utamanya di waktu lalu kurang terbuka, kurang pasti, dan kurang konklusif. "Kebetulan sekali (unfortunately) kasus Gubernur Basuki ini berkaitan dengan isu agama yang sangat sensitif, yaitu berkenaan dengan kitab suci," katanya.

SBY menilai, ketika akhirnya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjanjikan bahwa kasus Ahok itu akan diselesaikan secara hukum, ucapan kedua pemimpin puncak itu sudah tepat dan benar tetapi terlambat. Akibatnya, terbangun mistrust (rasa tidak percaya) dari kalangan rakyat terhadap negara, pemimpin dan penegak hukum.

"Sudah ada trust deficit (merosotnya kepercayaan)," ujarnya.

Karenanya, menurut ketua umum Partai Demokrat itu, saat ini prioritasnya adalah mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap negara. Dengan pendekatan yang bijak dan komunikasi yang tulus serta tepat. "Diharapkan bisa terbangun kembali kepercayaan rakyat terhadap negara dan pemerintahnya," kata SBY.

Situasi sosial politik belakangan ini memanas. Pemicunya adalah adanya kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama yang juga merupakan calon gubernur petahana dalam Pilkada DKI Jakarta. Kasus yang menjerat Ahok itu segera dihubungkan dengan persaingan memperebutkan kursi DKI 1.

(mus)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP