TUTUP
TUTUP
POLITIK

Ruhut Dinilai Tak Salah, Agus yang Tidak Prosedural

Polemik soal manuver Ruhut Sitompul masih mengemuka.
Ruhut Dinilai Tak Salah, Agus yang Tidak Prosedural
Politikus Partai Demokrat Ruhut Sitompul. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

VIVA.co.id – Polemik soal manuver Ruhut Sitompul masih mengemuka. Ruhut yang dikenal sangat loyal pada Susilo Bambang Yudhoyono ternyata berbeda sikap pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Padahal, SBY bersama elite tiga partai lainnya, yakni PPP, PKB, dan PAN, mengusung anak sulungnya, Agus Yudhoyono sebagai calon gubernur. Tapi Ruhut begitu ngotot mendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Menurut eks kader Partai Demokrat, Tridianto, Ruhut mendukung Ahok itu awalnya bukan kesalahannya. Dia meyakini Ruhut pasti mendapatkan sinyal dari SBY. Minimal dipersilakan untuk membuka komunikasi.

"Ini sama ketika dulu Pilpres 2014 Ruhut dibiarkan mendukung Jokowi, sementara Demokrat diam-diam diarahkan mendukung Prabowo-Hatta," kata Tri kepada VIVA.co.id,  Jumat, 28 Oktober 2016.

Tri berpendapat bahwa tindakan yang tidak prosedural justru munculnya Agus sebagai cagub dari koalisi yang digalang Demokrat. Sahabat Anas Urbaningrum itu menilai SBY diam-diam menggalang koalisi untuk mencalonkan Agus, meskipun tidak daftar di Demokrat dan partai-partai koalisinya.

"Wajar kalau Ruhut menganggap ini aneh, apalagi Ruhut sudah berposisi mendukung Ahok," kata Tri lagi.

Mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Cilacap itu pun memahami jika Ruhut masih ingin mempertahankan status sebagai anggota atau kader partai berlambang bintang Mercy itu. Meskipun, pemeran Si Poltak di suatu sinetron itu rela melepas posisi di partai dan berjanji mundur dari DPR.

"Jadi Ruhut layak juga kecewa kalau dipecat dari Demokrat, walaupun Pak SBY berusaha tangannya tidak menyentuh pemecatan Ruhut," kata dia.

Sebelumnya Tri menilai keputusan Partai Demokrat memecat Ruhut dinilai lambat.

Sebab, Tri mengungkapkan, bukan kali ini saja, Ruhut direkomendasikan dikeluarkan dari partai yang didirikan SBY tersebut. Saat Partai Demokrat dipimpin Anas Urbaningrum, kata Tri, Ruhut nyaris dipecat namun saat itu mentah di SBY.

Tridianto mengatakan, Ruhut gagal dipecat saat era kepemimpinan Anas lantaran SBY masih memerlukan Ruhut untuk menyerang Anas dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat.

Tridianto berpandangan, sebaiknya SBY menunjukkan ketegasan sikap dalam pemecatan Ruhut. Apalagi SBY menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Sedangkan dia menyarankan, Ruhut juga harus bersikap yang semestinya, yakni mundur dari partai berlambang bintang Mercy itu.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP