TUTUP
TUTUP
POLITIK

Tantangan Ichsanuddin Noorsy Maju di Pilkada DKI

Ia siap melawan Ahok di Pilkada DKI tahun depan.
Tantangan Ichsanuddin Noorsy Maju di Pilkada DKI
Bakal Cagub dan Cawagub Perseorangan DKI Jakarta Ichsanuddin Noorsy dan Ahmad Daryoko diterima oleh Ketua KPU DKI Jakarta Marsono di kantor KPU DKI Jakarta, Jakarta, Minggu (7/8). (ANTARA/Rosa Panggabean)

VIVA.co.id - Ekonom Ichsanuddin Noorsy resmi mendaftarkan diri sebagai calon gubernur di Pilkada DKI 2017 mendatang melalui jalur perseorangan. Ia menggandeng mantan Ketua Umum Serikat Pekerja PT PLN (Persero), Ahmad Daryoko sebagai wakilnya.

Pengamat Politik Charta Politika, Yunarto Wijaya menyebut bahwa Ichsanuddin memiliki tantangan yang berat maju sebagai calon Gubernur DKI melalui jalur perseorangan. Apalagi ia akan berhadapan dengan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

"Di Undang-undang Pilkada yang baru syarat calon independen sangat sulit dipenuhi karena aturan verifikasi faktual 3x24 jam, jadi itu saya agak ragukan. Tidak pernah terdengar juga gerakan pengumpulan KTP untuk Ichsanuddin," kata Yunarto kepada VIVA.co.id di Jakarta, Minggu 7 Agustus 2016.

Menurut dia, publik belum mengenal sosok Ichsanuddin sehingga hal tersebut bisa memengaruhi pemilihannya di Pilkada DKI tahun depan. Menurut dia, selama ini masyarakat DKI hanya mengenal beberapa tokoh seperti Ahok, Yusril Ihza Mahendra, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Sandiaga Uno.

"Kalau ditanya peluang, saya pikir tidak sebesar tokoh nasional seperti Ahok, Yusril dan Risma yang digadang-gadang jadi Cagub DKI itu. Apakah keberadaan sebagai seorang pengamat itu bisa menjadi modal besar bagi Ichsan untuk berhadapan dengan birokrat?" ungkapnya.

Yunarto mengungkapkan bahwa kemungkinan besar masyarakat DKI akan lebih memilih calon gubernur yang memiliki rekam jejak sebagai kepala daerah ketimbang dari kalangan profesional.

Hal itu sebagaimana pengalaman Pilkada DKI 2012 silam. Di mana, Joko Widodo (Jokowi) sebagai Wali Kota Solo dan Ahok sebagai Bupati Belitung Timur waktu itu mengalahkan pasangan incumbent Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli (Foke-Nara).

"Ini kan pertarungan melawan incumbent yang masih tinggi elektabilitasnya dan kepuasan publik juga masih tinggi di atas 60 persen, jadi kalau berhadap-hadapan lebih mungkin penantang memiliki track record sebagai kepala daerah karena lebih mudah bagi masyarakat DKI merasionalisasi, itu juga modal Jokowi-Ahok saat mengalahkan Foke di tahun 2012," katanya.

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP