TUTUP
TUTUP
POLITIK

PPP: Rusuh Tanjungbalai Karena Hilangnya Kultur Toleransi

Rusuh Tanjungbalai sebabkan sejumlah vihara terbakar
PPP: Rusuh Tanjungbalai Karena Hilangnya Kultur Toleransi
Ketua Umum DPP PPP Djan Faridz saat memberikan pidato dalam Silaturahmi Nasional Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta, Minggu (22/11/2015). (VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar)

VIVA.co.id - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, Djan Faridz menyatakan prihatin dan sangat menyayangkan terjadinya kerusuhan pembakaran rumah dan vihara di Tanjungbalai, Sumatera Utara, Jumat malam 30 Juli 2016.

Tragedi kerusuhan yang awalnya dipicu protes seorang warga etnis tertentu atas kumandang azan masjid di depan rumahnya itu akhirnya melahirkan ketersinggungan dan kemarahan ummat Islam. Buntutnya, terjadi pembakaran rumah dan vihara. Dalam keterangan tertulisnya, Minggu 31 Juli 2016, Djan Faridz menilai insiden ini muncul lantaran masyarakat telah kehilangan kultur toleransi antar umat beragama.

Djan mengatakan Islam yang ada di Nusantara telah memiliki kultur panggilan azan dikumandangkan lewat pengeras suara. Azan bagi umat Islam bukan sekedar panggilan salat saja, tapi juga syiar suci atas nama asma Allah. Oleh karenanya, menggugatnya atau melarangnya berarti mengusik batin keyakinan umat Islam.

Mantan Menteri Perumahan Rakyat itu mengingatkan, agar jangan ada orang yang memancing di air keruh menyangkut soal Suku, Ras, Agama dan Antargolongan (SARA). Sebab, dampak kerusakan sosialnya amat parah, baik secara fisik maupun secara psikologis.

Djan berharap adanya saling memahami kultur dan tradisi agama masing-masing merupakan inti tercegahnya kesalahpahaman dan kesewenang-wenangan antarumat beragama.

"Setiap agama memiliki tata cara ibadah dengan kultur yang berbeda. di sinilah letak pemahaman untuk toleransi antarumat beragama. Jika ini dipahami maka peristiwa di Tanjungbalai tidak akan terjadi," ujar dia.

Kerusuhan di Tanjungbalai jika tidak disikapi dengan serius, hati-hati dan cepat, baik oleh aparat, pemerintah dan tokoh agama, maka akan bisa meluas menjadi konflik ras dan gejolak kebencian atas etnis tertentu. Jika ini terjadi, maka gemanya jauh lebih berbahaya bagi keutuhan NKRI.

Indonesia lebih toleransi

PPP mengimbau, untuk menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat, maka diperlukan sikap saling menghormati dan saling menghargai, sehingga gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian dapat dihindari. Masyarakat juga dituntut untuk saling menjaga hak dan kewajiban di antara mereka antara yang satu dengan yang lainnya.

"Sebagaimana diamanatkan dalam  UUD 1945 pasal 29 ayat 2 disebutkan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu," ujar Djan.

Djan mencontohkan bahwa toleransi dan penghormatan pada kultur agama sangat besar di Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Wujudnya, negara memberikan hari libur nasional bagi hari-hari besar agama yang ada di Indonesia.

Olehnya itu, Djan mengajak sebagai warga negara sudah sepatutnya menjunjung tinggi sikap saling toleransi antarumat beragama dan saling menghormati antar hak dan kewajiban, termasuk kultur dan tradisi agama yang ada. Dalam Islam, dalil tentang toleransi sudah jelas, yaitu 'lakum dinukum waliyadin' yang artinya 'bagimu agamamu dan bagi kami agama kami'.

Djan mengajak umat Islam agar tidak cepat terprovokasi, reaktif serta anarkis yang melampaui kewenangan aparat.

"Marilah kita tampilkan wajah Islam yang ramah, santun dan penuh kasih sayang sebagaimana contoh yang ditunjukkan Rasulullah SAW dalam kehidupan beragama dan bernegara di Madinah, karena Islam Rahmatan lil alamin..." ujarnya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP