POLITIK

Hasil Survei Sejumlah Lembaga Soal Capres 2014

Sejumlah tokoh diprediksi bakal bersaing kuat dalam Pilpres 2014.
Selasa, 11 Februari 2014
Oleh : Dwifantya Aquina
Periset memaparkan hasil survei ISC bertema 'capres dan parpol yang memiliki kompetensi dalam memberantas korupsi' di Jakarta.
VIVAnews - Pesta demokrasi sebentar lagi digelar. Pemilihan legislatif dihajat tanggal 9 April 2014. Pemilu Presiden tanggal 9 Juli. Sebelum dua Pemilu itu digelar, ruang politik kita sudah diramaikan kampanye dan pengumuman hasil survei sejumlah lembaga. Banyak nama yang ditemukan dalam survei itu dan dianggap para responden layak menjadi presiden Indonesia. Meski belum semua partai politik mendekralasikan calonnya secara resmi.

Sejumlah lembaga survei menemukan nama yang berbeda untuk Capres 2014, dari hasil survei itu. Ada yang menjadi nomor satu di salah satu lembaga survei, tapi terpelanting ke bawah di survei yang lain. Tapi semua lembaga itu melakukan survei dengan mekanisme yang bisa dipertanggungjawabkan.

Hasil survei yang dirilis Lembaga Survei Nasional (LSN) pada Januari 2014 memunculkan tokoh Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri sebagai sosok yang bakal memimpin suara dalam Pilpres 2014. 

Menurut survei LSN, 33,8 persen warga Jakarta menganggap Mega lebih layak dicalonkan sebagai Presiden dibanding Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Ini karena 32,5 persen masyarakat Jakarta masih mengharapkan Jokowi membuktikan kinerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga masa jabatannya berakhir pada 2017. (Baca disini)

"Mayoritas masyarakat DKI mengaku kurang setuju dengan rencana mengusung Jokowi ( 71,2 persen). Hanya 27,5 persen yang mengaku setuju. Dibandingkan Oktober 2013 merosot tajam. Saat itu, 2013, mereka yang setuju 53,8 persen," kata peneliti LSN, Dipa Pradipta, saat merilis hasil survei di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu 9 Februari 2014.

Survei ini dilakukan sejak 10-26 Januari 2014. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara tatap muka berpedoman kuesioner terhadap 790 responden yang tersebar di lima kotamadya Jakarta. Populasi dari survei adalah seluruh penduduk Jakarta yang berusia minimal 17 tahun atau mereka yang belum 17 tahun, namun sudah menikah.

Selain itu, hasil survei LSN menyatakan bahwa kepuasan warga Jakarta terhadap kinerja Jokowi di berbagai bidang menurun. Awal tahun ini, sebanyak 47,5 persen responden mengaku puas dan 46,9 persen kurang puas. 

Indonesia Survey Center (ISC) menempatkan Prabowo Subianto sebagai capres urutan teratas dalam pemberantasan korupsi. Responden yakin Ketua Dewan Pembina Partai (DPP) Gerindra itu mampu memberantas korupsi. (Baca disini)

Figur yang paling dianggap bersih dan mampu memberantas korupsi menurut survei ISC adalah Prabowo Subianto dengan hasil 19,1 persen, Mahfud MD 11,9 persen, Jokowi 11,8 persen, Anis Baswedan 7,8 persen, dan Hatta Rajasa 6,9 persen.

Selain itu, survei ini menunjukkan bahwa Partai Gerindra disebut sebagai partai yang relatif bebas dari korupsi dengan hasil 16,7 persen dan Hanura 12,2 persen. Gerindra juga dianggap masyarakat konsisten untuk memberantas korupsi dengan hasil 18,7 persen, disusul PDIP 11,2 persen, Hanura 9,2 persen, dan PAN 8,1 persen.

Mengapa Prabowo dipercaya? Communication Manager ISC, Andry Kurniawan beralasan, tokoh ini dianggap paling berani dan tegas dalam memberantas korupsi. "Dipercaya sebagai tokoh yang berkomitmen kuat untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih sesuai dengan amanat reformasi," katanya.

Survei yang dilakukan tanggal 1-12 Januari 2014 ini diselenggarakan di 33 provinsi se-Indonesia dan mengambil sampel 1.600 responden yang berusia 17 tahun ke atas. Jumlah sampel ini diambil melalui teknik pencuplikan secara acak. Margin error sebesar 2,4 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengumpulan data ini dilakukan dengan teknik wawancara berdasarkan kuesioner. Responden terdistribusi 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan. Uji kualitas ini dilakukan dengan telepone check dan spot check sebesar 20 persen dari total sampel. 

Sementara, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA menyebut hanya akan ada tiga calon yang diprediksi dapat mengikuti Pemilu Presiden 2014. Ketiga calon berasal dari tiga parpol dengan tingkat keterpilihan paling tinggi yakni Golkar, PDIP dan Demokrat. Hal itu berdasarkan survei yang mereka lakukan pada Januari 2014.

Survei capres yang digelar LSI dibatasi oleh tiga indeks capres 2014 yang diformulasikan LSI. Ketiga indeks tersebut adalah capres dicalonkan dari tiga parpol teratas dalam perolehan suara pemilu; capres merupakan pengurus strukural partai dan indeks ketiga capres dicalonkan secara resmi oleh partai.

Mengacu pada indeks tersebut, ketiga capres yang disurvei adalah Ketum Golkar Aburizal Bakrie, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan nama dari sejumlah peserta konvensi capres Demokrat. Elektabilitas Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dinilai jauh dibanding Jokowi. 

Jika diusung menjadi calon presiden oleh PDI-P, maka suara Megawati akan bersaing ketat dengan Aburizal Bakrie, ketua umum sekaligus kandidat yang diusung Partai Golkar, serta Prabowo Subianto dari Partai Gerindra. 

Survei itu menunjukkan popularitas Megawati berada pada rentang 13,4 sampai 22 persen, Aburizal antara 11,5 dan 21,3 persen, sementara Prabowo antara 10,7 dan 20,6 persen.

Bila Joko Widodo yang diusung PDI-P, maka survei ini menunjukkan dukungan untuknya berkisar antara 22,3 dan 35,6 persen, sementara dukungan untuk Aburizal 13,2 sampai 20,1 persen, dan Prabowo 12,6 sampai 19,7 persen.

LSI menyebutkan bahwa survei berlangsung pada 6-16 Januari 2014, dengan 1.200 responden, dan menggunakan margin of error 2,9 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner.

Jokowi 'menyedot' suara pesaingnya

Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut Gubernur DKI Joko Widodo dapat merebut suara pemilih Golkar yang seharusnya mendukung Aburizal Bakrie sebagai calon presiden.

Bukan hanya suara pemilih Golkar yang “tersedot” oleh Jokowi. Sebanyak 42,7 persen basis massa Partai Demokrat juga mendukung Jokowi. Fenomena serupa terlihat di Partai Gerindra. Sebanyak 20,6 persen massa Gerindra lebih memilih Jokowi ketimbang Prabowo Subianto.

Dalam survei CSIS ini, elektabilitas Jokowi berada di peringkat teratas dengan perolehan suara 34,7 persen. Sementara capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto, memperoleh suara relatif jauh di bawah Jokowi, yaitu 10,7 persen. Capres Partai Golkar, Aburizal Bakrie, tipis di bawah Prabowo dengan angka elektabilitas 9 persen.

CSIS melakukan survei dengan metode wawancara langsung tatap muka di 33 provinsi pada 13-20 November, menggunakan 1.180 responden sebagai sampel dengan margin of error 2,85 persen

Pada 2013 lalu, Lembaga riset Soegeng Sarjadi School of Goverment (SSSG) menempatkan Menteri BUMN Dahlan Iskan pada posisi tertinggi di antara 10 bakal kandidat calon presiden Partai Demokrat. Dahlan meraih elektabilitas tertinggi dengan 31,6 persen suara.

Namun berdasarkan survei tersebut, elektabilitas Dahlan sekalipun tak mampu menyaingi Joko Widodo. (Baca disini)

Berdasarkan survei SSSG, jika pemilihan langsung Presiden RI dilaksanakan pada tahun 2013, maka Jokowi dapat memperoleh elektabilitas 45,8 persen. Ia unggul cukup jauh dibanding kandidat-kandidat capres lain, termasuk dari Demokrat.

Hasil survei tersebut menilai elektabilitas Jokowi berdampak positif bagi PDI Perjuangan. Partai oposisi tersebut dapat memanfaatkannya untuk meraih suara publik pada Pemilu 2014.

Survei SSSG dilaksanakan 25 Agustus-9 September 2013. Metode pengumpulan data dengan wawancara melalui telepon. Populasi survei adalah seluruh warga di 10 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Balikpapan yang memiliki telepon rumah. Kriteria responden adalah mereka yang sudah memiliki hak pilih dalam pemilu.

Dalam penelitian ini, sampel diambil dari hasil mengacak nomor telepon yang terdapat di dalam buku Telkom. Jumlah sampel 1.250 responden. Sementara tingkat keyakinan 95 persen, sampling error penelitian sekitar 2,77 persen akan tetapi nonsampling error dimungkinkan dapat terjadi.


TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found