POLITIK

Majalah The Economist: Jokowi Antitesa SBY

The Economist menulis Jokowi "bukti demokrasi bekerja" di Indonesia.

ddd
Jum'at, 7 Juni 2013, 10:23
SBY salat diapit Joko Widodo dan Jusuf Kalla
SBY salat diapit Joko Widodo dan Jusuf Kalla (tvOne)

VIVAnews - Majalah ekonomi terkemuka dunia, The Economist, menulis berita tentang Gubernur Jakarta Joko Widodo yang diprediksi bisa menjadi calon kuat di Pemilihan Presiden 2014. Jokowi adalah "bukti demokrasi bekerja", demikian The Economist edisi cetak yang terbit 8 Juni 2013 ini.

"Sulit membayangkan gambar Susilo Bambang Yudhoyono, presiden Indonesia yang percaya diri dan agak bongsor, mengenakan jaket kulit membalut kaos oblong bergambar sebuah band rock," tulis the Economist di pembukaan artikel berjudul "Mr Joko Goes to Jakarta" itu. "Belum lagi pria yang sudah difavoritkan menggantikannya itu, muncul 31 Mei lalu, bernyanyi di sebuah konser grup musik dari Inggris, Arkarna."

Jokowi, menurut The Economist, baru muncul menjadi tokoh nasional setahun belakangan. Namun wacana mengenai masa depannya telah memunculkan spekulasi dia akan maju dalam pemilihan presiden Juli 2014 nanti.

Jokowi baru berusia 52 tahun bulan ini. Sejumlah pengamat politik sudah mendesaknya untuk maju dalam pemilihan presiden, karena dalam sejumlah survei, namanya menjadi pemuncak kandidat calon presiden. Menurut The Economist, Jokowi menyatakan kepada temannya, bahwa ada tiga partai yang memintanya jadi calon presiden dan dua partai lain memintanya jadi calon wakil presiden.

Menurut The Economist, popularitas Jokowi karena citra "jujur" di tengah kata politikus identik dengan pencoleng. SBY juga memiliki citra itu, namun dua periode kepemimpinannya dilihat belum berhasil memberantas korupsi.

Dan, menurut The Economist, Jokowi muncul seperti antitesa SBY. SBY tinggi, gagah, berwibawa dan tenang, atau disebut orang Indonesia sebagai "presidensial" sementara Jokowi berbadan kecil, ramah, bercakap dalam bahasa keseharian dan dalam bahasa pengamat politik Eep Saefulloh Fatah, "tetangga semua orang".

"Jokowi adalah bukti demokrasi bekerja. Setelah karir yang sukses sebagai pengusaha furnitur, dia menjadi wali kota Solo dan bekerja dengan baik, sehingga menyediakan landasan bagus untuk kampanyenya menjadi calon gubernur Jakarta."

Dan kini, halangan Jokowi maju menjadi calon presiden adalah apakah partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, bersedia mengusungnya di 2014. Jika bicara pendukung, The Economist menulis,  "Pasti akan memaafkan dia melupakan ibu kota demi meraih hadiah politik terbesar." (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
kawani.angga
29/06/2013
sudah mengingkari sumpah jabatannya di solo, sekarang mau mengingkari sumpah jabatannya di dki? ckckckck pikir ulang laaaah
Balas   • Laporkan
sunaryo.uun
07/06/2013
100% saya pilih joko widodo......
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id

Konten ini dikirimkan oleh pembaca anggota VIVAlog