POLITIK

Tifatul: Kasus Suap Daging, Cacian pada PKS Merajalela

Tifatul Sembiring yakin kader PKS tetap tegar.

ddd
Jum'at, 10 Mei 2013, 11:34
Petinggi PKS yang juga Menkominfo Tifatul Sembiring
Petinggi PKS yang juga Menkominfo Tifatul Sembiring (ANTARA/Sigid Kurniawan)
VIVAnews - Mantan Presiden PKS, Tifatul Sembiring, mengungkapkan, partainya jadi sasaran cacian di media sosial setelah kasus dugaan suap kuota impor daging sapi yang menyeret Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS, sebagai tersangka. Namun, kata Tifatul, partainya tidak perduli cacian dan terus berjuang demi kebaikan dan kejayaan Indonesia. 

Beberapa petinggi PKS sudah dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap ini. Mulai dari Menteri Pertanian asal PKS Suswono, Sekjen dan Bendahara PKS, hingga akhirnya Presiden PKS Anis Matta dan Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. Selain Luthfi, tersangka lain dalam kasus ini adalah Ahmad Fathanah. 

"Orang awam kadang sulit membedakan mana tersangka mana saksi. Ada yang tanya apakah AF (Ahmad Fathanah) presiden PKS?" kata Tifatul dalam kultwit di situs jejaring sosial Twitter, Kamis malam 9 Mei 2013.

Kader PKS, imbuhnya, tetap tegar dalam menghadapi rintangan dan cobaan ini. "Hingga mencapai Kalimatullah hiyal 'ulya."

Selain itu, imbuhnya, kader PKS pun masih menunggu-nunggu apa tuduhan terhadap Luthfi. Siapa sebenarnya yang salah. "Wajar kader-kader dan pengurus PKS bertanya tentang keadilan hukum. Ada kasus sebesar Rp 1,3 triliun, dua tahun baru jadi tersangka. Dan, yang bersangkutan tidak ditahan." 

Tapi, kasus suap sapi hanya Rp1 miliar, itu pun uang belum diterima."Tapi, Luthfi langsung ditahan, digelandang malam-malam dari kantor DPP PKS. Kader bertanya, mengapa ada perlakuan yang berbeda," tulis Tifatul. 

Luthfi dipanggil paksa dan kemudian ditahan, 30 Januari lalu. Sehari setelah KPK menangkap tangan Fathanah menerima Rp1miliar dari dua bos PT Indoguna Utama. (adi)




© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
devarizki
10/05/2013
iya nih wajar aja sia, maneh, ente, kamu di caci maki malu2in aja umat lu, inget PKS berlandaskan agama apa is.... wajar orang islam mencaci maki karen ente malu2in, ga tau mana yang hak dan bathil, heran koplok siah
Balas   • Laporkan
brohen | 10/05/2013 | Laporkan
huss diam ngomong aja belepotan..maneh nu koplok..
Kunroji Wijaya
10/05/2013
nyesel saya milih pks pada pemilu 2009 yg lalu, ternyata seya milih para munafikin....memalukan.
Balas   • Laporkan
ibnu.aris.3990
10/05/2013
Tifatul Sembiring bagai pawang hujan tak kala partainya basah kuyup dihujani kritik yg sangat pedas , konon partai PKS kini sudah menjelma menjadi Corporation Campany yg masing2 anggotanya diberi kewenangan untuk mengumpulkan rente papun dan dari manapun
Balas   • Laporkan
budd2id
10/05/2013
PKS HEBAT PEMAKAN SEGALA DAGING. PARTAI PEMAKAN SEGALA DAGING. MANTAP....MAJU TERUS PANTANG MUNDUR. DEMI KEJUJURAN, MAJU DAN MAJU. ABISIN TUH DAGING2 MUDA
Balas   • Laporkan
devarizki | 10/05/2013 | Laporkan
yeh sisain yang bening tapi montok ah masa di embat semua
dulkamid
10/05/2013
Ingat demokrat?? Dicaci habis karena Nazar, Anggie, AM dan AU. Tapi setidaknya mereka tidak kesurupan membela kadernya dan terima hukuman publik. Lha PKS, kesurupan membela LHI dan bela diri. Sekarang makanlah, bukan cuma caci maki, tapi sumpah serapah.
Balas   • Laporkan
imato63
10/05/2013
Mas,mas, biar serupiah yang namanya korupsi, ya tetap haram. Anda berbaju islam, berbendera islam, mosok sih, gak tahu mana halal mana haram? Wajar, kalau ummat islam juga marah kepada anda semua. Malu-maluin, sih...!
Balas   • Laporkan
yonno.nong
10/05/2013
Berbicaralah tanpa kemunafikan & secara logika, cek & ricek saja kekayaan presiden PKS didapat dari mana lalu buktikan bahwa kekayaan tersebut bukan didapat dari hasil korupsi. Itu baru benar bukannya mencari pembenaran dengan segala cara.
Balas   • Laporkan
apa_aja
10/05/2013
media mengontrol semua hal. jgn heran.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com

Konten ini dikirimkan oleh pembaca anggota VIVAlog