TUTUP
TUTUP
POLITIK

Cara Baru Parpol Gaet Pemilih Muda

Mereka menjelma bak selebriti.
Cara Baru Parpol Gaet Pemilih Muda
Rapat pleno KPU soal verifikasi parpol peserta Pemilu 2014 (Antara/Rosa Panggabean)

VIVAnews - Para pemimpin partai mulai gencar turun ke konstituen jelang pemilihan umum 2014. Banyak dari mereka membidik kalangan muda untuk bisa mendulang suara bagi partainya.

Menurut Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI), Effendi Ghazali, untuk mengambil simpati kalangan pemuda dalam mendapatkan suara pada pemilu 2014, harus ditentukan pada kemasan iklan yang menarik.

Lantaran, kalangan muda atau pemilih pemula sangat tertarik terhadap popularitas seseorang yang kerap muncul di media massa, khususnya televisi.

"Pemilih pemula atau pemilih muda itu sangat tergantung pada kemasan iklan, seperti iklan-iklan di tengah kota dan televisi, sehingga kalangan muda sangat tergoda untuk memilihnya. Seperti yang dilakukan Hary Tanoe dan Prabowo Subianto," kata Effendi saat menjadi pemateri di acara Pelatihan Nasional Kominfo Tunas Indonesia Raya (TIDAR), di Jakarta, Sabtu 16 Maret 2013.

Namun, akibat ingin mendapatkan suara dan dukungan dari kalangan muda, akhirnya para tokoh-tokoh politik saat ini lebih menjadi selebriti.

"Tak mau kalah, para selebriti juga kini lebih mudah masuk di dunia politik. Dan puncaknya itu pada pilkada Jawa Barat, di mana para kandidatnya kebanyakan dari kalangan artis seperti Dedi Yusuf, Dedy Mizwar, dan Rieke Diah Pitaloka," katanya.

Menurut dia, jika ingin menjual caleg atau pemimpin tertentu supaya dipilih oleh kalangan muda, harus memunculkan karakter dari tokoh yang akan dipilih dan bukan figurisasi. "Seperti Jokowi, dia punya karakter yang kuat," katanya.

Sebelumnya, Aryo Djojohadikusumo, ketua umum Pengurus Pusat Tunas Indonesia Raya (TIDAR) --organisasi sayap Partai Gerindra yang ditujukan untuk anak muda--,  meminta seluruh calon kepala daerah dari partai Gerindra tidak lagi menggunakan konsep kotak-kotak Jokowi-Basuki.

Kekalahan cagub gubernur yang didukung Gerindra di Sumut dan Jabar membuktikan "pengopian" kotak-kotak tidak berhasil.

"Caleg, calon kepala daerah tingkat provinsi, kota/kabupaten, harus punya kreasi sendiri dan baru. Jangan tiru gaya kotak-kotak. Kegagalan Sumut dan Jabar jadi bukti itu tidak berhasil," ujarnya. (art)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP