POLITIK

Demokrat: Ada Menteri yang Korupsi Jabatan

Didi melihat memang ada menteri yang sedikit "narsis."

ddd
Minggu, 22 Juli 2012, 10:00
Kabinet Indonesia Bersatu jilid II
Kabinet Indonesia Bersatu jilid II (Biro Pers Istana Presiden/Abror Rizki)

VIVAnews - Ketua DPP Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin menilai teguran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada para menterinya merupakan peringatan keras. Didi melihat memang ada menteri yang sedikit "narsis."

"Khusus untuk menteri dari partai politik. Jujur saja, ada menteri yang sibuk melakukan pencitraan. Misal melalui acara-acara temu kader, jalan sehat, pasang iklan kinerja yang agak narsis," kata Didi kepada VIVAnews.

Menurut Didi, semua itu tidak lebih dari pencitraan diri karena cenderung mengedepankan partai politik dan dirinya dibanding karya yang mengatasnamakan pemerintah. Akibatnya, kata Didi, Presiden SBY seolah sendirian mengurus negeri ini. Sementara pemilu masih dua tahun lagi.

"Seyogyanya juga lebih baik apabila ketua umum partai politik tidak berada di kabinet. Karena sebagian juga telah terang-terangan disebut-sebut partainya sebagai capres," tegas anggota Komisi III Bidang Hukum DPR ini.

Demokrat akan terus mendorong agar ketua umum partai politik tidak boleh lagi merangkap sebagai pejabat negara. Meski demikian, mereka masih punya hak untuk maju sebagai presiden. "Akan lebih elok jika mereka mengabdi membesarkan partai dan mencetak negarawan-negarawan besar untuk negeri ini," ujar dia.

Didi melanjutkan, sebenarnya teguran Presiden SBY itu bukan hanya untuk menteri dari partai politik. Menteri-menteri nonparpol juga tak kalah sibuk melakuan pencitraan. Menurutnya, ada menteri dari nonparpol yang lebih sibuk dan asyik melakukan pencitraan.

"Sementara, prestasi Kementeriannya belum terlihat," jelas Didi. "Itu termasuk kategori korupsi jabatan. Bagaimanapun label pejabat negara disandangnya, protokoler tetap melekat padanya." (eh)

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
mrtambunan
26/07/2012
Makanya Pak utk coba hilangkan kebiasaan lobi melobi antar partai untuk kepentingan partai tertentu. Akhirnya dari hasil lobi melobi ya itu, adanya pembagian kue kekuasaan. Klo mentri yg bukan dr partai anda bandel, anda cm mampu nyindir aja.
Balas   • Laporkan
putramaya
24/07/2012
Didi melihat memang ada menteri yang sedikit "narsis." HAH?!!! kok cuma sedikit setahuku lebih sedikit yang tidak narsis
Balas   • Laporkan
ari57
24/07/2012
Heran ama Didi ini, yang selalu pencitraan adalah pembina Demokrat... Kalo menteri juga cari pencitraan, ya wajar toh. Istilah guru kencing berdiri, murid kencing berlari
Balas   • Laporkan
asmadiyanti
23/07/2012
diusut aja itu menteri yang korupsi. sebelum ketahuan semuanya, lebih baik menteri itu mengundurkan diri. meskipun SBY bisa copot jabatannya langsung, tapi semua tetep ada prosedurnya. bahkan lebih baik biarkan proses hukum berjalan.
Balas   • Laporkan
arya_tedja
23/07/2012
Yang kaga jadi menteri aja bisa korup (Ketum Demokrat - AU), apalagi yang jadi menteri?
Balas   • Laporkan
irwantra
22/07/2012
Semakin banyak informasi terbuka, seperti "ocehan" Didi Irawadi ini, semakin terlihat Demokrat sebagai partai penguasa tidak bisa berbuat apa2 selain Curhat. Ambil tindakan boss atau diam saja, Semakin terlihat bagi masyarakat, Demokrat tidak bisa mengatu
Balas   • Laporkan
irwantra
22/07/2012
Presiden itu khan Kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. Kalau ada Menterinya yang dianggap "Ngawur" ya dipanggil donk, dinasehati, diperingatkan, atau sekalian diberhentikan...Prsiden Khan punya Hak untuk melakukan itu. jagan ngeluh meululu Boss.
Balas   • Laporkan
ceuk-aink
22/07/2012
asa keluargana kenaeh anu eta mah, saha nyak?
Balas   • Laporkan
blinkblonk
22/07/2012
bener yang kata diatas, kami rakyat yang tak mampu mengaspirasikan suara kami, kalau pemerintahan sekarang sangat jelek !!!
Balas   • Laporkan
iron maiden
22/07/2012
menteri narsis krn meniru presiden sby yg super narsis, jd ikut pepatah "guru kencing berdiri-murid kencing berlari". contohnya:ngapain sby kelayapan keluar negri yg sekali pergi menghabiskan anggaran hampir 100 milyar?,apa hasilnya?, NOTHING
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id