POLITIK

Buku Biografi Politik Taufiq Kiemas (II)

Sang Ayah Menangis Taufiq Masuk GMNI

Dibesarkan dalam keluarga Masjumi, Taufiq Kiemas malah "merantau" ke lawan politik Masjumi

ddd
Jum'at, 20 Februari 2009, 07:47
Taufiq Kiemas diapit Effendi Simbolon & Tjahjo Kumolo
Taufiq Kiemas diapit Effendi Simbolon & Tjahjo Kumolo (Antara/ Rosa Panggabean)

VIVAnews - Dilahirkan di era pergolakan melawan penjajahan Jepang dan dibesarkan di saat agresi militer Belanda II membuat Taufiq Kiemas tumbuh menjadi anak yang berani dan berjiwa nasionalis. Meski dibesarkan dalam keluarga Masjumi, Taufiq selalu disekolahkan di sekolah yang sekuler, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang berkumpul.

"Di masa-masa remaja itu, Taufiq belum begitu tertarik mengikuti soal-soal politik," tulis Rustam F Mandayun, Muhammad Yamin, Helmy Fauzy dan Imran Hasibuan dalam buku "Jembatan Kebangsaan: Biografi Politik Taufiq Kiemas" yang diluncurkan Kamis 19 Februari 2009.

Saat bersekolah di Sekolah Menengah Atas II Palembang, Taufiq malah membentuk gang anak muda yang diberi nama Don Quixotte. Sesuai namanya yang mengambil tokoh utama novel klasik Miguel de Cervantes, mereka bercita-cita menaklukkan dunia. Tapi kegiatan utama gangnya tak jauh-jauh dari pesta dan hura-hura.

Sampai suatu waktu, 19 Agustus 1960, Taufiq mendengarkan pidato Presiden Soekarno yang berpidato menyatakan secara resmi membubarkan Masjumi dan Partai Sosialis Indonesia di hadapan pengurus dua partai itu. "Hebat juga presiden yang satu ini, membubarkan partai politik langsung di depan para pemimpin partai tersebut," kata Taufiq seperti diceritakan dalam buku biografinya.

Sejak itu, Taufiq malah penasaran dengan Soekarno dan pemikirannya. Buku-buku Bung Karno dilahapnya ketika masih duduk di bangku SMA. Tapi Taufiq hanya bisa mengagumi Soekarno diam-diam karena bapaknya sendiri adalah korban dari kesewenang-wenangan politik Proklamator itu.

Ketika Taufiq masuk Fakultas Hukum, kekaguman Taufiq pada Soekarno bertemu penyalurannya. Ketua perploncoan yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia, Djohan Hanafiah, mendengar cerita tentang Taufiq yang populer dengan gang Don Quixotte-nya. "Begitu tahu Taufiq ikut perploncoan, Djohan dan pengurus GMNI Palembang segera saja memutuskan merekrut Taufiq." Mereka berpikir, Taufiq akan menjadi darah segar yang bisa mendinamisir GMNI.

Tanpa pikir panjang, Taufiq bergabung dengan GMNI. Misi Taufiq sederhana: ingin suatu saat bisa memimpin PNI dan dekat dengan Soekarno yang diidolakannya. "PNI itu kan partai orang Jawa. Aku ingin tunjukkan bahwa orang Sumatera juga bisa memimpin partai orang Jawa," kata Taufiq. Dan pikiran Djohan ternyata benar, karena tak lama setelah Taufiq bergabung, rekan-rekan segangnya ikut bergabung dalam GMNI meski kebanyakan latar belakang mereka dari keluarga Masjumi.

Sementara di rumah, Tjik Agus Kiemas yang mendengar anaknya, Taufiq Kiemas, masuk GMNI kaget dan sedih. Aktivis Masjumi itu sempat menangis sedih mengetahui Taufiq bergabung dengan GMNI. "Sang ayah tak habis pikir, mengapa Taufiq memilih masuk GMNI, bukan organisasi kemahasiswaan yang berasaskan Islam seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)."

Akhirnya sang ayah bisa memaklumi pilihan politik anak sulungnya itu. Tjik Agus hanya berpesan agar Taufiq siap dengan pilihannya itu. Hubungan ayah dan anak itu akhirnya membaik lagi. Setelah itu bahkan Taufiq menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpul aktivis GMNI Palembang.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id