POLITIK

Dibalik UU BPJS, Keputusan di Rumah Wapres

Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa meminta pelaksanaan pada 2016.

ddd
Sabtu, 29 Oktober 2011, 00:02
Boediono bersama Ketua-ketua Umum Partai Mitra Koalisi
Boediono bersama Ketua-ketua Umum Partai Mitra Koalisi (Antara/ Widodo S Jusuf)

VIVAnews - UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) akhirnya disahkan setelah mengalami deadlock. Dibalik pengesahan itu, lobi-lobi politik tak hanya dilakukan di Senayan namun juga rumah Wakil Presiden, Boediono.

Seperti diketahui dalam sidang paripurna, tujuh fraksi DPR meminta pelaksanaan BPJS 2 yang membidangi ketenagakerjaan dimulai Januari 2014. Hanya dua fraksi, Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa, yang meminta pelaksanaan 2016. Rapat lalu diskorsing pukul 15.00 WIB untuk melakukan lobi-lobi politik.

UU BPJS ini terdiri dari dua bagian yaitu BPJS 1 yang akan menggantikan Asuransi Kesehatan (Askes), sementara BPJS 2 yang meliputi kecelakaan kerja, kematian dan tunjangan hari tua akan menggantikan peran Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) dan sejumlah lembaga jaminan sosial negara lainnya.

Ternyata lobi-lobi tak hanya dilakukan di sidang paripurna, namun juga Wapres Boediono. Menurut Ketua Fraksi PKB Marwan Jafar, sebenarnya pada pagi hari anggota partai koalisi rapat di Hotel Sultan yang menyepakati semua anggota harus mendukung RUU ini dan disyahkan hari ini.

"Tadi pagi ada rapat Setgab, semua harus mendukung RUU ini harus disyahkan hari ini. BPJS I clear 2014, BPJS II selambat-lambatnya 2016. Karena pimpinan DPR pun memberi batas waktu RUU itu harus diselesaikan hari ini. Kami semua diperintahkan untuk mendukung RUU itu disahkan hari ini," kata Marwan di Jakarta, Jumat 28 Oktober 2011.

Namun ternyata suara sidang paripurna terbelah yaitu pelaksanaan BPJS pada 2014 (disetujui tujuh fraksi) dan 2016 (Partai Demokrat dan PKB). Sidang paripurna lalu diskors untuk melakukan lobi-lobi.

Bersamaan dengan itu, Boediono juga melakukan rapat dengan anggota partai koalisi. Peserta rapat juga berkomunikasi dengan Pramono Anung dan Puan Maharani dari PDI Perjuangan untuk mencari solusi tengah, dengan mengusulkan BPJS 2 mengenai ketenagakerjaan dilakukan pada Juli 2015.

"Karena ada komunikasi itu, rapat disepakati ikut solusi itu. Kalau lewat masa sidang ini, maka akan dimulai dari nol lagi di DPR periode setelahnya." ujarnya.

Keputusan di rumah Wapres ini menjadi pertimbangan keputusan di Senayan. Akhirnya UU BPJS disyahkan dengan kesepakatan BPJS 1 yang mengurusi masalah kesehatan mulai beroperasi 1 Januari 2014, sementara BPJS ke 2 yang mengurusi ketenagakerjaan juga dilaksanakan 1 Januari 2014 tetapi mulai beroperasi paling lambat 1 juli 2015.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
nesa_gan
31/10/2011
Pelaksananya adalah pemerintah, jadi pemerintah sendiri yang tau situasi dan kemampuannya, Bertambahnya program dan targetan menuntut kerja keras dan dukungan sekitar. Untuk itu sebaiknya DPR tidak terlalu banyak bicara, tapi banyak bekerja
Balas   • Laporkan
rumah dijual
31/10/2011
semoga saja saja ditahun 2014 dan thaun 2015 nanti BPJS ini berjalan dengan lancar .
Balas   • Laporkan
samhudi911
29/10/2011
Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa meminta pelaksanaan pada 2016,,,kalo sekarang waktunya cari modal....
Balas   • Laporkan
aiditbinamat
29/10/2011
204... mundur 209...mundur 2011...mundur lagi? 2016?!! coba pikir kalo kalian anggota dewan berposisi sebagai orang miskin!
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id

Konten ini dikirimkan oleh pembaca anggota VIVAlog