POLITIK

"Pidato SBY Soal Koalisi Baru Wacana"

Presiden SBY tidak perlu khawatir pemerintahannya digoyang partai lain lewat legislatif.

ddd
Rabu, 2 Maret 2011, 06:36
Pidato Kemenangan Presiden SBY.
Pidato Kemenangan Presiden SBY. (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakiem menilai pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal koalisi hanya wacana. Lukman justru mengimbau agar kisruh koalisi yang terjadi saat ini dijadikan momentum.

"Momentum untuk menegakkan sistem pemerintahan presidensial secara murni dan konsekuen, yakni dengan membentuk zaken kabinet," kata dia dalam pesan singkat di Jakarta, Selasa malam 1 Maret 2011.

Zaken kabinet yang dimaksud Lukman adalah kabinet yang terdiri atas para ahli di bidangnya masing-masing, tanpa perlu mempertimbangkan asal-usul parpol. Artinya, dia melanjutkan, para ahli itu bisa saja datang dari parpol, tapi dia dijadikan menteri karena keahliannya, bukan karena parpolnya.

Dengan bentuk seperti ini, menurut Lukman, SBY tidak perlu khawatir pemerintahannya digoyang partai lain melalui legislatif. "DPR boleh berteriak keras, tapi tidak bakal bisa menjatuhkan pemerintah. Teriakan keras DPR penting untuk mengoreksi," ujar dia.

Dengan demikian, dia menjelaskan, pemerintahan tetap berjalan dengan efektif. "Sistem presidensial murni tidak memungkinkan parlemen menjatuhkan pemerintah. Mestinya SBY tidak perlu berpikir koalisi," tuturnya.

Lukman pun meminta SBY untuk melupakan koalisi dan memusatkan perhatian kepada pembangunan bangsa. "Apakah SBY berani? Itu soalnya," kata dia.

Sebelumnya, Presiden menyatakan ada 'satu dua partai' yang melanggar kesepakatan koalisi. Presiden menyatakan, jika memang tidak mau lagi menjadi bagian dari koalisi, tidak masalah. (art)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
didik
02/03/2011
Segitu setuju, saran para anggota DPR jangan berkomentar di media bila tidak mewakili partainya
Balas   • Laporkan
Pratiwi Febrina
02/03/2011
Bukan wacana, tapi ini 'intro' untuk melakukan reshuffle!Efektivitas pemerintahan jadi terganggu krn koalisi yg tdk kompak. Dimanapun dalam kerja tim,harus ada 'teamwork' yg baik apalagi ini tentang kepentingan berjuta rakyat Indonesia.Pasti ada reshuffle
Balas   • Laporkan
didik
02/03/2011
Itu baru bagus jangan kayak YANI gak tau pajak ngomong pajak. Jelas dipajak gak ada Kasubsi disebut-sebut terus keberatan & Restitusi dianggap kerugian negara
Balas   • Laporkan
wirkoko
02/03/2011
kalau berani keluarkan saja Golkar dan Pks karena mereka nantang koalisi ayo.... kalau berani
Balas   • Laporkan
dodok
02/03/2011
Perbedaan pendapat yang sebenarnya kecil terkesan dibesar-besarkan hingga substansi yang menjadi pokok yang harus diselesaikan jadi dilupakan.
Balas   • Laporkan
cantika
02/03/2011
APAPUN PARTAIANYA ... APAPUN KOALISINYA RAKYAT TETAP SENGSARA
Balas   • Laporkan
herrypurwwanto
02/03/2011
biasa pemenang selalu SOMBONG,
Balas   • Laporkan
Ricky
02/03/2011
Testing the water...
Balas   • Laporkan
wisono
02/03/2011
Dasar partai pragmatis, ngak tau malu, yah. tidak merasa kalau sinyal pimpinan koalisi itu mengarahkan ke partainya. tTerima saja seperti PDIP berada di luar lingkar kekuasaan. Tidak plin plan dan berhati mendua
Balas   • Laporkan
kadek sumerta
02/03/2011
Itu biasa dalam berpolitik seperti pepatah mengatakan "abis manis sepah dibuang"
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com

Konten ini dikirimkan oleh pembaca anggota VIVAlog