POLITIK

Buku Dosa-dosa Politik Yudhoyono Diluncurkan

Peluncuran dihadiri para pengkritik Yudhoyono seperti Rizal Ramli & Fadjroel Rachman.

ddd
Senin, 22 Desember 2008, 14:54
Ketua Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli.
Ketua Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli. (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Boni Hargens, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, meluncurkan buku karyanya "Trilogi Dosa Politik: Memahami Dosa-dosa Politik Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan Pengkhianatan Kaum Intelektual." Peluncuran ini mengundang para tokoh yang rajin mengkritik pemerintahan seperti AS Hikam dan Rizal Ramli.

Mengomentari buku ini, AS Hikam mengatakan, banyak paradoks demokrasi dalam pemerintahan Yudhoyono. "Yang terjadi demokrasi dimaknai sebagai hilangnya kepastian," kata Hikam dalam sambutan peluncuran buku di Gallery Kafe, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Senin, 22 Desember 2008.

Namun calon legislator dari Partai Hati Nurani Rakyat meminta sikap kritis itu tidak asal bicara. Hikam meminta penulis ikut memberi jawaban-jawaban atas persoalan yang dihadapi pemerintah. "Jangan sekadar exercise belaka," ujar mantan politisi Partai Kebangkitan Bangsa itu.

Sementara Rizal Ramli menilai pemerintah belum benar-benar memberantas korupsi. Indikator kesuksesan memberantas korupsi, kata Rizal, dilihat bukan dari banyak tangkapan koruptor saja. "Buktinya, sampai saat ini masih banyak kebocoran anggaran di pusat atau pun di daerah," kata Rizal.

Rizal juga bicara mengenai fenomena economic bubble. Pemerintah lebih banyak bermain statistik, kampanye kesuksesan, tapi pada faktanya gagal. Rizal membantah penilaian Bank Dunia yang mengatakan perekonomian Indonesia on the track. "Yang terjadi sebenarnya ekonomi Indonesia out of track," ujarnya.

Pemerintahan Yudhoyono membawa kondisi ekonomi normal menjadi 'ekonomi antre' karena buktinya banyak yang mengantre, pengangguran meningkat. Banyak janji-janji Yudhoyono-Kalla yang tidak ditepati misalnya berjanji membangun 1.000 megawatt listrik tapi tidak tercapai sehingga beberapa kota lebih banyak petnya daripada byarnya," ujar Rizal.

Calon presiden independen, Fadjroel Rachman, mengatakan Yudhoyono-Kalla merupakan bagian loyalis Soehartois-Orbais. "SBY-JK adalah bab terakhir para Soehartois-Orbais dan 2009 adalah tahun terakhir kepemimpinan para loyalis Soeharto. Kepemimpinan loyalis 2009 mesti direbut," ujarnya pendek.

Si pengarang buku, Boni Hargens, mengatakan Indonesia sekarang terjebak pada politik popularitas. Sehingga rakyat dipaksa memilih yang paling populer. Boni lalu menawarkan deklarasi Blok Politik Kontrapolitisi Gagal. Isinya menilai elit-elit yang berkuasa setelah 1998 telah gagal total. "Ini pentingnya penyegaran kepemimpinan melalui calon alternatif," ujarnya.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
widan1208
22/12/2008
Orang-orang itu pernah jadi key person di negara ini, apa yang anda perbuat waktu itu?????. Buku fitnah begini tak akan laku. Yang akan menilai pemerintahan SBY adalah Pemilu 2009, bukan anda hai manusia-manusia pecundang...!!!!!!!!
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com

Konten ini dikirimkan oleh pembaca anggota VIVAlog