POLITIK

Komuter Tinggi, Tanda Ibukota Harus Pindah

Jika Ibukota dipindahkan, angka komuter itu minimal akan berkurang seperempat.
Rabu, 4 Agustus 2010
Oleh : Arfi Bambani Amri, Anggi Kusumadewi
Presiden SBY menyapa warga dari atas kereta

VIVAnews - Direktur Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Sonny Harry B. Harmadi menyatakan, peningkatan komuter yang luar biasa menjadi salah satu tanda bahwa pemindahan Ibukota mendesak untuk dilakukan. Dari 2002 ke 2009, komuter di Jakarta meningkat dua kali lipat.

"Arus komuter dari daerah pinggiran Jakarta -- Bogor Depok Tangerang Bekasi -- ke Jakarta sangat besar, sehingga menimbulkan masalah bagi Jakarta," kata Sonny dalam diskusi di gedung DPD, Senayan, Jakarta, Rabu 4 Agustus 2010.

"Bayangkan, berdasarkan data Sakernas BPS, pada tahun 2002 terdapat 740 ribu komuter di Jakarta per harinya. Namun jumlah ini melonjak drastis pada tahun 2009 menjadi 1,4 juta komuter per harinya," tutur Sonny sembari membeberkan data dalam dialog bertajuk 'Urgensi Pemindahan Pusat Pemerintahan' itu.

"Padahal penduduk Timor Leste saja total berjumlah 1,1 juta. Tapi komuter di Jakarta jumlahnya masih lebih banyak dari warga satu negara itu," Sonny berseloroh. Semua itu membuat Jakarta sebagai Ibukota terlalu berat menanggung beban, karena aktivitas penduduk di pinggiran Jakarta juga ikut dipusatkan ke Jakarta.

Yang penting juga untuk dicatat, ujar Sonny, dari total 1,4 juta komuter yang bekerja Jakarta itu, 21,3 persennya adalah pegawai pemerintah atau PNS yang bekerja di berbagai administrasi pemerintahan pusat. "Jadi, kalau pusat pemerintahan dipindah, otomatis 21,3 persen komuter tersebut juga akan ikut pindah, dan hal itu akan mengurangi beban Jakarta," kata Sonny.

Kemacetan yang terjadi di Ibukota Jakarta, menurut Sonny, juga tak lepas dari kontribusi para komuter itu. "Buruknya sarana transportasi Jakarta menyebabkan sebagian besar komuter memilih menggunakan kendaraan pribadi, sehingga menimbulkan kemacetan luar biasa," katanya.

Dosen UI itu menyatakan, pertumbuhan mobil di Jakarta pada tahun 2007 berkisar 7,75 persen, sedangkan pertumbuhan sepeda motor berkisar 12,5 persen. "Padahal antara tahun 2003-2007, tidak ada penambahan luas jalan utama di Jakarta," tutur Sonny.

Ia menambahkan, andai kemacetan akibat pertumbuhan kendaraan tersebut bisa ditanggulangi, maka Jakarta dapat menghemat sekitar Rp 9,34 miliar per menitnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Staf Khusus Bidang Pemerintahan Daerah Velix Wanggai menyatakan pemindahan Ibukota hendaklah didasari tujuan strategis untuk mempercepat dan meratakan pembangunan,  bukan karena masalah kemacetan di Jakarta semata. Simak pernyataan Velix di sini. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found