POLITIK

"SBY Sedang Jalankan Politik Kejahatan"

Politik Kejahatan, kata dosen Fisip di UI ini erat kaitannya dengan negara diktator.

ddd
Senin, 8 Februari 2010, 23:58
Aksi Demonstrasi Seratus Hari Membawa Kerbau
Aksi Demonstrasi Seratus Hari Membawa Kerbau (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Dalam teori kejahatan, ada dua istilah yang mirip namun maknanya berbeda. Yakni, politik kejahatan dan kejahatan politik.
 
Dijelaskan pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Boni Hargens, kejahatan politik merupakan tindakan melanggar hukum yang dilakukan warganegara dengan merusak simbol negara, atau melawan kepemipinan negara yang subversif.
 
"Tapi kalau politik kejahatan, segala taktik, manuver, tindakan politik yang dilakukan oleh rezim yang berkuasa untuk membungkam segala bentuk suara kritis, dalam bentuk kritik yang dilakukan warganegara," ujar Boni di Doekoen Coffe, Jakarta, Senin 8 Februari 2010.
 
Ditegaskan Boni, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tengah menerapkan politik kejahatan dengan cara menerapkan perangkat-perangkat demokrasi yang bertujuan membungkam suara rakyat dan lawan politiknya.
 
Praktek itu, kata dosen Fisip di UI ini erat kaitannya dengan negara diktator. Hanya saja, cara yang dilakukan SBY berbeda. "Diktator itu ada dua cara, yang hard dan yang soft. Kalau SBY itu menjalankan cara yang soft," jelasnya.
 
Terkait demonstrasi massa dengan membawa hewan, Boni menegaskan, Presiden tidak perlu marah dengan hal tersebut. Sebab katanya, substansi permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini bukan pada hewan yang dibawa massa. Melainkan, lambannya pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.
 
"Presiden tidak usah marah soal kerbau. Berapa ekorpun di istana, itu tidak penting untuk dibahas. Yang perlu ditanyakan adalah, kenapa ada kerbau di istana," katanya.
 
Ditambahkan Boni, kerbau dan hewan lainnya itu ada karena ada pemerintah SBY dinilai lamban dan tidak jujur. "Itu kan dasarnya. Maka, terbukalah, bertanggung jawablah terhadap kritik dan segera berbenah diri," tegasnya.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
muhammad fauzi firmansyah
11/02/2010
boni....tai !
Balas   • Laporkan
harnes
11/02/2010
Saya yakin dan percaya masih banyak putra bangsa yg memiliki moral baik cara berfikir atau tindakan, mudah2an manusia sejenis Boni ini tdk banyak lagi dan punah dari bumi indonesia tercinta, amiin, mari membangun Indonesia kawan2 ku, tegakkan budi pekerti
Balas   • Laporkan
ndank
11/02/2010
dalam suatu permainan baik itu sepak bola atau apapun itu disana ada wasit juga ada komentator yang selalu ngomong seakan-akan ia piawai dalam permainan itu, tapi kenyataannya tidak begitu kita boleh lihat suruh wasit dan komentator itu untuk bermain aku
Balas   • Laporkan
ndank
11/02/2010
dalam suatu permainan baik itu sepak bola atau apapun itu disana ada wasit juga ada komentator yang selalu ngomong seakan-akan ia piawai dalam permainan itu, tapi kenyataannya tidak begitu kita boleh lihat suruh wasit dan komentator itu untuk bermain aku
Balas   • Laporkan
kucrit
11/02/2010
Ya, saya setuju dengan Lae. Siapa dia? Coba bilangin ke Bang Arbi Sanit! Hanya beliau politisi kawakan sejati dari UI yang bisa secara obyektif mengomentarinya.
Balas   • Laporkan
Cacuk kossim
10/02/2010
Kalau nggak mau dikritik jangan jadi presiden, tapi sby kan dah presiden, jln keluarnya sby harus tahu yg salah n' mana yg benar, smua harus tahu, waktu menjelang pmilu dia tahu kok ada yg mau mbunuh dia tuk serang lawan politiknya (meskipun yg di tunjukk
Balas   • Laporkan
Bambang Arwana
09/02/2010
sby gitu lho
Balas   • Laporkan
alghiffary
09/02/2010
Pernyataan yang menyesatkan tanpa fakta kapan ya kamu bisa menggunakan hati nurani ........... sehingga rakyat tidak tersesat dengan pernyataanmu itu kawan.
Balas   • Laporkan
Lae Poltak
09/02/2010
HAi sdr Boni Hargens, anda ini mengaku2 akademisi tapi tolok ukur pemikiran anda tdk mencerminkan itu, lebih kpd corong suara bagi kelompok2 kalah dalam pemilu kemarin, tetapi tdk dpt menyembunyikan kekasaran kelompok anda. Bagaimana bisa anda katakan bah
Balas   • Laporkan
kampret
09/02/2010
ni dosen ato tukang ramal? analisisnya dangkal.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com

Konten ini dikirimkan oleh pembaca anggota VIVAlog